Senin, 08 April 2013

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA INOVATIF DAN KREATIF UNTUK MERANCANG PENELITIAN TINDAKAN KELAS





Murwati Widiani

A.   Pendahuluan
     “Siji, loro, telu, astane sedeku, mirengake Bu Guru, menawa didangu. Papat nuli lima, lenggahe sing tata, aja pada sembrana mundhak ora bisa.” Lagu dengan lirik yang sangat dikenal masyarakat, khususnya anak-anak sekolah di Jawa, menyiratkan sebuah institusi pendidikan yang lebih dirasakan sebagai sebuah lembaga sangat formal, gurusentris, peserta didik harus selalu mendengarkan guru tanpa diberi kesempatan untuk berkreasi. Memang benar, sejauh ini pendidikan kita masih saja didominasi oleh pandangan lama (meskipun tidak menyeluruh). Pengetahuan dianggap sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengatahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar.
     Kegiatan pembelajaran yang masih didominasi guru juga terjadi pada pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Menurut hasil supervisi pembelajaran yang dilakukan penulis terhadap guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia di kabupeten Sleman (dalam kegiatan kepengawasan), masih dijumpai beberapa kendala pembelajaran yang berdampak pada kurang efektifnya proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia. Kendala tersebut antara lain: (1) guru belum merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi, (2) guru belum menggunakan pendekatan, metode, strategi, teknik, dan model pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan,  (3) guru belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai, khususnya untuk kompetensi keterampilan mendengarkan, (4) guru belum mampu menjadi model yang baik untuk kompetensi keterampilan berbicara dan belum berupaya menggunakan model dari sumber lain.
     Jika kita cermati Standar Proses (Permendiknas nomor 41 tahun 2007), di sana dijelaskan bahwa dalam proses pendidikan diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik peserta didik, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar. Proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
              Untuk dapat memenuhi standar proses, diperlukan kemauan untuk menyadari kekurangan atau adanya permasalahan, belajar dari berbagai sumber dan forum untuk menemukan solusi permasalahan, serta mengimplementasikan hasil belajar atau solusi untuk merancang perbaikan pembelajaran. Jika semua ini dilakukan oleh seorang guru, artinya guru tersebut sudah berniat untuk memulai kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sebagai bahan belajar, pada makalah ini akan dikemukanan: (1) PAIKEM sebagai model alternatif pembelajaran yang sesuai dengan Standar Proses, (2) Implementasi PAIKEM pada pembelajaran bahasa Indonesia, (3) Menggunakan PAIKEM untuk merancang PTK.
             
B.   PAIKEM sebagai Model Alternatif Pembelajaran yang Sesuai dengan Standar Proses

Sebuah pendekatan pembelajaran yang ideal haruslah dapat lebih memberdayakan peserta didik, tidak gurusenris, dan menyenangkan. Salah satunya kita kenal dengan nama PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inspiratif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). PAIKEM menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
PAIKEM membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif (Pusbang Tendik, 2011:5). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, manarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi, dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality), ketajaman pemahaman (insight) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, peserta didik secara individual atau kelompok diberi tugas untuk memecahkan suatu masalah. Jika memungkinkan, masalah diidentifikasi dan dipilih oleh peserta didik sendiri. Masalah yang diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan serta sering dilihat atau diamati oleh peserta didik sendiri, sesuai dengan KD pada tiap-tiap mata pelajaran.

          Prinsip PAIKEM merujuk pada pembelajaran dengan basis kompetensi, yaitu:
1.    Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya.
2.    Integral agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
3.    Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu, dalam kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya.
4.    Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberi layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberi layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.
5.    Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan.
6.    Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik.
         
Selanjutnya dikatakan bahwa PAIKEM memiliki 4 ciri: mengalami, komunikasi, interaksi, dan refleksi. Keempat ciri tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
1. Mengalami (pengalaman belajar): melakukan pengamatan, melakukan percobaan, malakukan penyelidikan, melakukan wawancara, peserta didik belajar banyak melalui berbuat, pengalaman langsung yang mengaktifkan banyak indera.
2. Komunikasi: mengemukakan pendapat, presentasi laporan, memajangkan hasil karya, mengungkap gagasan.
3.  Interaksi: diskusi, tanya jawab, lempar lagi pertanyaan, kesalahan makna berpeluang terkoreksi, makna yang terbangun semakin mantap, kualitas hasil belajar meningkat.
4.  Kegiatan refleksi, yaitu memikirkan kembali apa yang diperbuat: “Mengapa demikian?”, “Apakah hal itu berlaku untuk ...?”, untuk perbaikan gagasan/makna, untuk tidak mengulangi kesalahan, peluang lahirkan gagasan baru.
         Dari karakteristik PAIKEM, maka guru perlu memberikan dorongan kepada peserta didik untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar memang berada pada diri peserta didik, tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab peserta didik untuk belajar sepanjang hayat.

C.   Implementasi PAIKEM pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Sebelum dikemukakan implementasi PAIKEM pada pembelajaran bahasa Indonesia, perlu dikemukakan secara umum implementasi PAIKEM di sekolah. Implementasi PAIKEM di sekolah adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan amanat yang terdapat dalam PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Pada pasal 19 ayat 3 PP 19 Tahun 2005 dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum melakukan pelaksanaan pembelajaran terlebih dahulu dilakukan perencanaan pembelajaran.
Pada Standar Proses dinyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, inti, penutup. Dalam kegiatan pendahuluan guru melakukan kegiatan:
1.    Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
2.    Mengajukan pertanyaa-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
3.    Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
4.    Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Adapun kegiatan inti dilaksanakan dengan menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Maksud dari ketiga kegiatan tersebut adalah sebagai berikut.
1.    Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a.  melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prin­sip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b.  menggunakan beragam pendekatan pembela­jaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;
c.  memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
d.  melibatkan peserta didik secara aktif dalam se­tiap kegiatan pembelajaran; dan
e.  memfasilitasi peserta didik melakukan per­cobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

2.   Elaborasi
Dalarn kegiatan elaborasi, guru:
a.  membiasakan peserta didik membaca dan me­nulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
b.  memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memuncul­kan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c.  memberi kesempatan untuk berpikir, menga­nalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
d.    memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
e.    memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar
f.     rnenfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan balk lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
g.    memfasilitasi peserta didik untuk presentasi; kerja individual maupun kelompok;
h.    memfasilitasi peserta didik melakukan pamer­an, turnamen, festival produk yang dihasilkan
i.      memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa per­caya diri peserta didik.
3. Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a.    memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
b.    memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplo­rasi dan elaborasi peserta didik melalui ber­bagai sumber,
c.    memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,
d.    memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
1)    berfungsi sebagai narasumber dan fasilita­tor dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan be­nar;
2)    membantu menyelesaikan masalah;
3)    memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
4)  memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
5)    memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Dalam kegiatan penutup, guru:
1.    bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran;
2.    melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsis­ten dan terprogram;
3.    memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
4.    merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layan­an konseling dan/atau memberikan tugas baik tu­gas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
5.    menyampaikan rencana pembelajaran pada per­temuan berikutnya.

     Implementasi PAIKEM pada pembelajaran bahasa Indonesia adalah merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan mendasarkan pada prinsip pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Contoh skenario pembelajaran bernuansa PAIKEM untuk pembelajaran bahasa Indonesia SMA kelas XII pada KD 4.1 Menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan unsur-unsur dan struktur adalah sebagai berikut.
1.     Kegiatan pendahuluan
a.  Guru memimpin doa, mengecek kehadiran peserta didik, dan menanyakan kabar peserta didik,
b.  Guru memberikan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan pada peserta didik tentang pengalaman peserta didik menulis surat, manfaat surat, dan sebagainya.
c.   Guru menyampaikan KD dan tujuan pembelajaran dan KKM KD.
d.  Guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan yang akan dilakukan.
2.     Kegiatan Inti
a.    Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri atas 4 atau 5 orang.
b.    Guru memotivasi peserta didik untuk bekerja dan berdiskusi dengan baik dan akan menilai proses diskusi serta memilih kelompok terbaik.
c.    Guru membagikan beberapa contoh surat lamaran kepada tiap kelompok.
d.    Peserta didik mencermati surat dan berdiskusi untuk menentukan unsur-unsur surat lamaran pekerjaan.
e.    Peserta didik menjawab pertanyaan guru tentang hasil pekerjaannya menentukan unsur-unsur surat lamaran.
f.     Guru melakukan konfirmasi terhadap jawaban peserta didik.
g.    Guru membagikan LKS yang berisi iklan lowongan pekerjaan dan langkah-langkah kerja, kertas lebar, spidol dan selotip pada tiap kelompok.
h.    Tiap kelompok menulis surat lamaran pekerjaan pada kertas lebar dengan menggunakan spidol.
i.      Tiap kelompok menempel hasil pekerjaan pada dinding kelas.
j.     Guru memberi tugas pada tiap kelompok untuk mengoreksi dan memberikan nilai pada pekerjaan kelompok lain berdasarkan kelengkapan unsur, sistematika, dan penggunaan bahasa.
k.    Guru memberikan konfirmasi pada hasil pekerjaan tiap kelompok, memberi pujian, saran, dan koreksi.
l.      Guru menetapkan kelompok paling berprestasi dan memberikan hadiah.
3.     Kegiatan penutup
a.      Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi surat lamaran pekerjaan.
b.     Guru mengajak peserta didik melakukan refleksi dengan menanyakan kesan dan manfaat yang diperoleh peserta didik setelah belajar menulis surat lamaran.
c.      Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan iklan dari surat kabar pada kertas folio sebagaimana surat lamaran sesungguhnya.
d.      Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Pada rancangan pembelajaran di atas, guru sudah menggunakan beberapa metode dan media. Guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru juga telah memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, dan sumber belajar. Guru juga telah memfasilitasi peserta didik untuk berkompetisi secara sehat, melaporkan hasil eksplorasi, dan memamerkan produk belajarnya. Jelasnya, PAIKEM sudah tampak pada skenario pembelajaran tersebut.

        Setelah mempelajari konsep, prinsip, karekteristik, dan implementasi PAIKEM, ada sebuah pernyataan yang ditemukan sebagai hasil perenungan, yakni “MEMANG MENJADI GURU HARUSLAH KREATIF”. Ada beberapa saran berdasarkan kajian teori pembelajaran atau hasil pengalaman pembelajaran yang perlu disampaikan sebagai bahan renungan:

1.  Sebelum membantu peserta didik untuk menjadi pribadi yang kreatif, jadilah guru yang kreatif terlebih dahulu. Mengapa guru harus kreatif? Hernowo (2007:7) menulis:

Apabila seorang guru tidak kreatif, kehidupan itu akan ”mati” - tidak ada lagi yang baru. Bayangkan jika kehidupan yang mati itu menular ke kehidupan yang lain yang mengglobal? Guru harus kreatif karena guru yang kreatif akan menjadikan kehidupan itu sangat kaya dan bervariasi. Guru yang tidak kreatif akan menjadikan kehidupan ini membosankan, monoton, dan tidak bermakna.

Dalam ungkapan Hernowo tersirat makna bahwa guru yang kreatif akan membangkitkan kehidupan atau secara lebih khusus iklim pembelajaran di kelas yang kondusif. Sebaliknya, jika kelas menjadi mati, peserta didik menjadi bosan, itu adalah karena gurunya kurang kreatif. Guru kreatif akan selalu mengubah-ubah ”penampilannya” di kelas. Jika hari ini, jam ini, materi ini, dia menggunakan teknik cooperative learning misalnya, dia akan menggunakan teknik lain pada hari lain dengan materi lain. Guru kreatif bukan guru biasa yang tiap masuk kelas hanya membawa buku pelajaran, buku kerja guru, dan seperangkat alat tulis. Dia akan memanfaatkan berbagai media, bahkan barang-barang bekas, seperti tali rafia, kardus, atau lainnya, apa pun pelajarannya. Lihatlah ekspresi peserta didik ketika guru masuk kelas dengan ”tampilan dan benda” yang berbeda dengan biasanya. Pasti semua mata akan tertuju kepada sang guru layaknya artis panggung yang menjadi idola.
                  
2.  Guru adalah kreator proses pembelajaran (Zamroni, 2003: 74). Artinya, akan menjadi pertunjukan apa pun sebuah proses pembelajaran di kelas, tergantung pada guru. Guru kreatif akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1999:24) mengemukakan teori Quantum Learning. Mulanya, quantum learning berakar dari upaya Georgi Lozanov yang bereksperimen tentang ”suggestology”. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar. Berbagai teknik dapat digunakan untuk memberikan sugesti positif seperti mendudukkan peserta didik secara nyaman, pemberian penghargaan, atau pemunculan suasana kegembiraan.         
     
3.  Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, guru juga dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimilikinya dan dimiliki sekolah. Guru yang memiliki kelebihan dalam bercerita secara menarik misalnya, dapat menggunakannya untuk mendorong motivasi peserta didik atau membantu pencapaian kompetensi, dengan cerita-cerita yang relevan tentunya. Manfaatkan juga fasilitas yang dimiliki sekolah, seperti fasilitas TIK, laboratorium, alat peraga, dan sebagainya. Banyak sekolah yang kini dilengkapi dengan fasilitas TIK, IPTEK baik yang berasal dari dana block grant maupun dari dana yang dihimpun sekolah itu sendiri. Namun, belum banyak guru yang mau dan mampu memanfaatkannya untuk pembelajaran.

4.  Guru kreatif juga peduli dengan hal-hal yang disukai peserta didik. Dia peka terhadap perubahan yang dialami peserta didik, juga mengetahui hal-hal yang sedang menjadi ”tren” bagi peserta didik. Jika ingin menjadi guru yang disukai peserta didik, jangan paksakan peserta didik untuk memasuki dunia guru, tetapi masuklah kita ke dunia mereka. Pada era global seperti sekarang, peserta didik sangat akrab dengan berbagai fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. Para peserta didik di sekolah pedesaan pun kini memiliki alat komunikasi hand phone. Bagaimanakah sikap guru sebaiknya? Guru tidak perlu ketakutan dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang belum tentu terjadi. Memang, fasilitas tersebut dapat saja menimbulkan dampak negatif. Namun, jika guru mampu mengarahkan, mengelola, atau memanfaatkannya dengan baik, jadilah fasilitas tersebut sebagai media belajar yang menyenangkan. Penulis pernah mencoba memanfaatkan HP yang dimiliki peserta didik untuk menulis dan mengirimkan tugas menulis pantun lebaran melalui SMS pada liburan Idul Fitri. Hasilnya sungguh menggembirakan. Peserta didik tidak hanya memenuhi tugas dan perintah guru demi nilai, tetapi mereka menikmati tugas itu sebagai alat bersilaturahmi, bercanda, sekaligus berkreasi. Berikut ini salah satu pantun yang dikirim melalui SMS.

Ekananda Asmara, XII IPA (HP 085238871444):
Ke Lamongan bareng Nanda
Naik mobil berbahan bakar bensin
Ini pantun lebaran, Bunda...
Mohon maaf lahir dan batin

Balasan dari guru:

Dari Lamongan naik kuda
Bertopi biru berkalung sorban
Terima kasih Ekananda
Pantun kamu sungguh menawan

          Tugas menulis pantun yang sebenarnya ditargetkan hanya satu bait, ternyata dibalas lagi oleh peserta didik setelah menerima balasan SMS dari guru.
Naik pesawat melewati awan
Dari kaca terlihat hamparan
Tidaklah terlalu menawan
Serangkaian kata keluar dari pikiran
          Hasil karya peserta didik di atas adalah contoh kecil yang tidak boleh “dikecilkan”. Dengan apresiasi dari guru, bisa jadi karya kecil tersebut beberapa tahun kemudian akan menjadi karya besar.

D.   Menggunakan PAIKEM untuk Merancang PTK

         Setelah memahami prinsip pembelajaran PAIKEM dan mencermati contoh implementasi PAIKEM, guru dapat menggunakannya untuk memperbaiki pembelajaran atau untuk melaksanakan PTK. PTK merupakan bentuk penelitian yang paling sesuai untuk mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru. Seorang guru yang melaksanakan PTK akan memperoleh manfaat ganda, baik bagi dirinya, para peserta didiknya, maupun bagi institusi pendidikan. Bagi guru, PTK akan meningkatkan kualitas kinerjanya, meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam kegiatan pengembangan profesi, khususnya dalam kegiatan penelitian pendidikan. Bagi peserta didik, dengan PTK, kualitas proses dan hasil belajarnya akan meningkat. Jika kemampuan guru dan peserta didik meningkat, sekolah juga akan memperoleh keuntungan karena memiliki guru yang profesional dan menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas.
          PAIKEM sebagai pendekatan pembelajaran dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran atau untuk merancang sebuah penelitian tindakan kelas. PAIKEM dapat diwujudkan dalam metode, teknik tertentu yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan peserta didik. 
          Ada lima langkah yang harus dilakukan dalam merancang PTK.
1.    Merasakan Adanya Masalah
2.    Identifikasi dan Analisis Masalah
3.    Menentukan judul PTK
Judul PTK biasanya mencerminkan adanya permasalahan, tujuan, solusi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan, dan setting. Membuat judul PTK untuk dilaporkan pada lembaga dan untuk dijadikan naskah lomba memiliki perbedaan. Sebagai laporan pada lembaga cukup dibuat dengan bahasa yang lugu, tetapi sebagai naskah lomba, judul PTK haruslah menarik, inovatif, dan provokatif. Contoh judul PTK adalah:

Peningkatan Kemampuan Apresiasi Puisi melalui Strategi Cooperative Learning Siswa Kelas XI Bahasa MAN Yogyakarta II (Sebuah Penelitian Tindakan Kelas)- Sofia Yuliani.

Contoh judul lain dari PTK yang masuk final dalam Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) LIPI adalah:
·           “Dari ‘Samdesing’ hingga Tepuk Tangan” Upaya Meningkatkan Kompetensi Mendongeng melalui Penerapan Strategi “BABAK” – Sutrisno, SMP 1 Tepus, GK
·           Mengantarkan Peserta didik Menggapai Bintang Panggung Sastra dengan Menerapkan Teknik Kolase Basuki, SMP 21 Malang
·           Penerapan Metode “DIKSI”, Sebuah Upaya Meningkatkan Kulitas Pembelajaran Membacakan Puisi – Murwati Widiani, SMA Muh. Pakem

4.    Merumuskan Masalah
Selanjutnya, masalah-masalah yang telah diidentifikasi dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Rumusan masalah biasanya berbentuk kalimat pertanyaan, walaupun boleh juga berupa pernyataan. Contoh perumusan masalah:
·         Bagaimanakah penerapan metode ”DIKSI” dalam pembelajaran membacakan puisi?
·         Bagaimanakah kualitas proses pembelajaran setelah diterapkan metode ”DIKSI”?
·         Bagaimanakah peningkatan kompetensi siswa dalam keterampilan baca puisi setelah diterapkan metode ”DIKSI”?


5.    Merencanakan Tindakan
Kegiatan ini meliputi dua hal, yakni formulasi hipotesis tindakan dan persiapan tindakan.
a.     Formulasi Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan adalah dugaan terhadap perubahan yang akan terjadi setelah suatu tindakan dilakukan. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang akan diambil akan dapat memperbaiki sistem, proses, atau hasil. Contoh hipotesis tindakan:
·         Dengan menerapkan metode ”DIKSI” pada pembelajaran membacakan puisi,  kualitas proses pembelajaran akan meningkat.
·         Dengan menerapkan metode ”DIKSI” pada pembelajaran membacakan puisi,  kompetensi siswa dalam keterampilan baca puisi akan meningkat.
b.     Persiapan Tindakan
Hal-hal yang harus dilakukan dalam persiapan tindakan adalah:
  • Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran (sama dengan langkah-langkah pembelajaran dalam RPP).
  • Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan.
  • Mempersiapkan instrumen penelitian, seperti lembar observasi, kuisioner, angket, pertanyaan wawancara, soal tes, dsb.
  • Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan


E.    PENUTUP
    PAIKEM merupakan alternatif pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Standar Proses. PAIKEM dapat diwujudkan dalam berbagai metode, teknik, dan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, KD, dan peserta didik.          
        Kunci keberhasilan sebuah pembelajaran ada pada guru. Sebelum menjadikan peserta didik menjadi kreatif, guru harus kreatif terlebih dahulu. Sebaik-baiknya kurikulum yang dipegang oleh guru yang kurang baik, tidak lebih baik daripada kurikulum yang jelek di tangan guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang selalu ingin tahu, mau tahu terhadap segala sesuatu yang baru, dan mau melaksanakan apa yang telah diketahuinya secara kreatif dan inovatif. Selamat berinovasi!



Bahan Bacaan :
DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike. (1999). Quantum Learning. Diterjemahkan oleh Alwiyah Abdurrahman, Bandung: Kaifa.
Hernowo. 2007. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Kreatif. Bandung: LMC
Kemendiknas, Pusbang Tendik. 2011. PAIKEM – Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah. Jakarta
Zamroni. 2003. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: BIGRAF Publishing.
_____Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses
_____PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar