Senin, 08 April 2013

PEDULI SOSIAL DAN PEDULI LINGKUNGAN


Murwati Widiani

Sebuah Cerita
Suatu saat saya berkunjung ke sebuah sekolah, sebut saja SMP A. Kebetulan saat itu jam istirahat. Dari luar pagar saya melihat banyak siswa sedang bermain basket dan banyak pula yang sedang duduk-duduk santai. Pintu gerbang yang akan saya masuki hanya terbuka separuh sehingga tidak cukup untuk masuk kendaraan. Saya sengaja menunggu beberapa saat, berharap ada satu atau dua orang siswa yang berbaik hati untuk membukakan pintu. Beberapa menit saya tunggu, ternyata tidak seorang pun yang beranjak. Akhirnya, saya turun, mendorong gerbang sendiri di hadapan anak-anak yang hanya melihat.
Sementara, sebelumnya saya pernah mengalami hal serupa di sekolah lain, sebut saja SMP B. Namun, ada perbedaan respon siswa yang saya dapatkan. Sebelum saya turun, ada beberapa siswa yang menghentikan kegiatan olahraganya dan berlari ke arah gerbang, kemudian membukakan pintu sambil tersenyum. Saya membalasnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih.
Dari dua peristiwa tersebut, ada pertanyaan yang muncul di benak saya, “Mengapa berbeda?” Padahal, dilihat dari lokasi sekolah dan latar belakang siswanya tidak berbeda. Apakah hanya kebetulan? Saya kira ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang harus dirunut untuk menemukan akar penyebabnya. Begitulah, saya kemudian menceritakan pengalaman yang baru saja saya temui di SMP A pada guru-guru sekolah tersebut sebagai bahan sharing. Saya mulai mengatakan bahwa ini adalah “PR besar” bagi kita semua, saya selaku pengawas, dan Bapak Ibu selaku pendidik. Saya ajak bapak ibu guru berdiskusi untuk menjawab “Mengapa bisa seperti itu?” dan mencari beberapa hal yang dapat dilakukan agar para siswa di sekolah kita memiliki “perilaku peduli pada orang lain”. Dari situlah kemudian semua bersepakat untuk membuat kesimpulan bahwa menanamkan sikap peduli pada diri siswa bukan merupakan hal yang mudah.
Potret Buram di Album Sekolah
Ilustrasi awal yang tergambar hanyalah potret kecil dari sekian album yang sering terjadi di sekolah. Potret buram lainnya terkait dengan sikap peduli sosial adalah “lupa berterima kasih”, tidak suka meminta maaf jika bersalah, dan tidak suka menolong orang lain. Adapun potret buram terkait dengan sikap peduli lingkungan antara lain kurang menyayangi dan menjaga tanaman; membuang sampah tidak pada tempatnya; corat-coret tembok, bangku, meja, dan fasilitas sekolah lainnya. Mari kita lihat satu per satu untuk menemukan solusi pemecahannya.
Lupa Berterima Kasih
Dalam kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN), sebuah acara perhelatan ilmiah pelajar, saya berkesempatan menjadi pengawas bersama seorang rekan di salah satu ruang berkapasitas 40 peserta lomba. Setelah memimpin doa, membacakan tata tertib, saya mulai membagikan soal dan lembar jawab. Di antara 40 peserta, ada 4 siswa yang mengucapkan terima kasih. Sejumlah 36 siswa lainnya tidak mengucapkan apa-apa. Saya kemudian berbisik pada rekan saya, “Ingin tahu manakah siswa SMA X?” “Gimana?”, tanya rekan saya. “Mudah. Yang mengucapkan terima kasih itulah siswa SMA X.” Kenyataan, keempat peserta OSN yang mengucapkan terima kasih memang berasal dari sekolah yang sama, sebuah sekolah swasta terkemuka di Jalan Laksda Adisucipto.
Boleh dikatakan, sebagian besar siswa lupa berterima kasih ketika diberi kebaikan. Jangankan diberi soal, ketika ada petugas yang membagikan snek pun, mereka lupa mengucapkan terima kasih.  “Mengapa spontanitas kebanyakan siswa berbagai sekolah berbeda dengan siswa SMA X?” Ini adalah wacana menarik yang perlu dikaji asal muasalnya. Saya sendiri sudah lama tahu, jauh sebelum pendidikan karakter dijadikan muatan wajib di sekolah seperti sekarang ini, bahwa siswa-siswa di sana memang terbiasa mengucapkan terima kasih ketika kebaikan termasuk menerima soal pada saat Ujian Nasional. Karenanya, para pengawas UN yang berasal dari sekolah lain selalu merasa kagum. Pernah saya berbincang dengan Bapak St. Kartono, salah seorang guru di SMA yang para siswanya “pandai berterima kasih” itu. Ketika saya tanya, “Bagaimana caranya?” beliau menjawab, “Prosesnya cukup lama. Di kelas awal (X) saya masih sering membentak ketika anak-anak lupa berterima kasih, ‘punya mulut tidak?’, ‘Bisa ngomong terima kasih tidak?’, jawab beliau. Itu adalah wujud peran dan tanggung jawab seorang guru untuk menanamkan salah satu nilai karakter. Manakala siswanya lupa, guru haruslah mengingatkan dengan tegas dan mengenai sasaran. Efek dari teguran sang guru dengan kalimat semacam itu, tentu akan memunculkan rasa jera sehingga berusaha tidak mengulangi kesalahan serupa.
Selain dengan teguran, membiasakan berterima kasih harus dimulai dengan keteladanan. Para guru tidak cukup menuntut siswanya mengucap terima kasih ketika diberi kebaikan sekecil apa pun, namun harus dimulai dari gurunya. Mari kita melakukan refleksi diri, benarkah para guru di sekolah sudah terlebih dahulu mengucapkan terima kasih, khususnya pada siswa? Misalnya ketika para siswanya sudah belajar dengan baik, mengumpulkan tugas tepat waktu, memperhatikan guru, atau kebaikan lain yang tampaknya memang sudah sewajarnya? Jika kita (guru) sudah melakukannya, niscaya tanpa banyak nasihat pun mereka akan terbiasa mengucapkan terima kasih. Benar kata Rosihan Anwar, “semua berawal dari keteladanan”.
Sudaryanto (2011), seorang penulis muda yang terinspirasi menulis karena kisah dalam OSN yang pernah saya ceritakan menyimpulkan, “Bila orang tua biasa berucap terima  kasih, anak secara alamiah akan mengikutinya. Sebaliknya, jika orang tua enggan berucap terima kasih, anak akan mengikutinya juga. Demikian pula guru di lingkup persekolahan. Pendek kata, keteladanan menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter seorang anak.”

Tidak Suka Minta Maaf Ketika Melakukan Kesalahan
Potret buram berikutnya adalah tidak suka minta maaf jika melakukan kesalahan. Kita sering menegur siswa yang memakai pakaian kurang rapi, bertanya mengapa terlambat, atau mengapa tidak mengerjakan PR. Semua yang dilakukan siswa adalah kesalahan, namun amat jarang siswa yang meminta maaf secara spontan. Yang mereka lakukan ketika terlambat atau tidak mengerjakan tugas adalah terburu-buru menyampaikan berbagai alasan untuk menutupi kesalahannya.
Pernah ketika kuliah di IKIP (sekarang UNY), di fakultas saya ada seorang dosen yang sangat antipati pada mahasiswa yang tidak meminta maaf ketika datang terlambat. Bahkan beliau akan membentak mahasiswa yang cara meminta izinnya keliru, misalnya, “Saya terlambat Pak”. Spontan beliau akan menjawab, “Sudah tahu, saya tidak buta.” Mahasiswa yang peka akan belajar dari tegurannya dan menyimpulkan bahwa hal pertama yang harus diucapkan ketika kita terlambat adalah “meminta maaf”.
Lalu, mengapa para siswa agak sulit meminta maaf jika melakukan kesalahan? Sebagai guru, kita wajib berwas-was. Jangan jangan karena gurunya juga jarang meminta maaf di hadapan para siswa. Contoh konkret, kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah guru meminta maaf ketika terlambat masuk kelas? Sudahkah guru meminta maaf ketika belum sempat mengoreksi dan mengembalikan pekerjaan siswa? Atau ketika salah atau kurang jelas dalam menjelaskan suatu konsep?
Mungkin sebagian orang menganggap meminta maaf di hadapan siswa akan menurunkan kewibawaan. Pandangan semacam itu merupakan pandangan yang sangat keliru. Justru ketika seseorang mengakui kesalahan dan meminta maaf, keluhurannya akan tampak, jiwa ksatria akan terlihat. Tentu saja permintaan maaf haruslah disertai dengan kesungguhan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Dengan demikian, sebenarnya pengakuan salah dan permintaan maaf dapat dijadikan cemeti diri bagi seseorang.

Tidak Suka Menolong Orang Lain
Cerita di awal tulisan ini merupakan bukti nyata dari sikap tidak suka menolong orang lain atau kurang peduli sosial. Budaya individualis memang sudah merambah di kalangan anak bangsa. Kebiasaan kebanyakan anak sekarang yang sering sibuk dengan dunianya sendiri, terlalu sering bergelut dengan teknologi modern (HP, komputer dan internet) telah membuat anak kurang bersosialisasi. Dari kondisi ini, terbentuklah sikap “cuek” dan tidak peduli.
Sering kita lihat banyak orang (juga siswa) berkumpul di suatu tempat dalam acara arisan, rapat, atau keakraban, tetapi justru sibuk dengan dunianya masing-masing. Dengan HP di tangannya, mereka sibuk berkirim dan membalas SMS, membuka facebook, bermain game, atau “ngenet”. Inilah dampak dari teknologi canggih yang kini menjajah sebagian besar anak bangsa. Kebiasaan yang telah membentuk orang menjadi egois, individualis, dan “cuek”.
Jika dibiarkan, kita akan memiliki generasi yang kurang peduli, kurang peka, dan kurang bisa bekerja sama dalam tim. Gurulah yang harus membiasakan anak tidak bersifat individualis. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, guru haruslah mengembangkan sikap kerja sama melalui learning community dengan menerapkan metode yang kooperatif dan kolaboratif. Dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses disebutkan:  proses pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Pembelajaran yang interaktif dapat dimaknai pembelajaran yang memunculkan adanya interaksi antara siswa dan guru, siswa dan siswa, serta siswa dengan sumber belajar lainnya. Melalui pembelajaran interaktif, kemampuan afektif siswa berupa kemampuan kerja sama akan terwujud.
Selain itu, BUDAYA 3-S (Senyum, Sapa, Salam) yang kini terpampang di hampir semua sekolah, jika diamalkan benar juga akan dapat mengurangi kebiasaan “cuek”. Untuk mengamalkan slogan tersebut tentu harus dipelopori kepala sekolah, guru, dan juga tenaga kependidikan. Biasakan berada di sekolah sebelum para siswa datang. Berdirilah di gerbang sekolah untuk menyambut kedatangan siswa. Salami mereka, sapa dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, tepuk bahunya sambil memberi sedikit nasihat. Jika hal itu terus dilakukan, kedekatan antara siswa dan guru/tendik akan lebih terjalin. Begitu pula sikap ramah dan peduli sosial pada siswa akan bertambah.

Kurang Peduli Lingkungan
Sering kita melihat siswa kurang peduli terhadap lingkungan, suka membuang sampah tidak pada tempatnya, merusak lingkungan dengan corat-coret di tembok, meja, bangku dan fasilitas sekolah lainnya. Apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berbuat demikian? Kekurangpedulian terhadap lingkungan memang merupakan kebiasaan yang sudah hampir membudaya di negeri ini. Tidak terbatas hanya di sekolah, lihat saja banyak orang dengan sangat biasa membuang puntung rokok atau bungkus permen di mana pun mereka berada. Mereka tidak pernah berpikir perbuatannya akan mengotori lingkungan atau mengganggu kenyamanan orang.
Untuk menyikapi perilaku kurang peduli lingkungan yang sudah membudaya, sekolah dapat dijadikan laboratorium untuk mengubah sedikit demi sedikit agar menjadi lebih peduli lingkungan.
Seperti dikemukakan Nana Supriatna, http://karakter-smkn2depoksleman.org, Sebagai laboratorium pendidikan karakter, sekolah dapat menjadi contoh pembentukan karakter peduli pada lingkungan. Hal itu juga relevan dengan semangat green living, ecoliving, ecocity, dan lain-lain yang kini menjadi jargon dalam gerakan hijau untuk menangkal pemanasan global (global -warming) serta semakin terbatasnya sumber daya alam akibat eksploitasi yang berlebihan guna memenuhi kebutuhan konsumen. Sebagai contoh, sekolah yang memiliki halaman yang sempit atau luas yang ditanami oleh rumput, taman hijau serta pohon pelindung, memiliki ruang-ruang kelas dengan jendela terbuka dan tanpa mesin pendingin (AC) merupakan tempat yang baik untuk mengondisikan siswa membentuk karakter peduli lingkungan dan peduli sosial. Kebijakan kepala sekolah yang meminta para siswa yang bertempat tinggal dekat dengan sekolah untuk berjalan kaki pulang dan pergi serta menggunakan sepeda bagi mereka yang bertempat tinggal agak jauh merupakan kebijakan yang baik untuk menghemat penggunaan bahan bakar yang semakin terbatas. Sebaliknya, sekolah yang mengganti halaman rumput dengan lapangan semen untuk upacara dan tempat parkir, mengganti pohon dan pagar tanaman dengan gerbang sekolah dari beton, menciptakan ruang kelas tertutup dengan penerangan listrik dan berpendingin (AC), merupakan kebijakan yang tidak relevan dengan pendidikan karakter peduli lingkungan.
Untuk membentuk sekolah hijau, bersih, dan nyaman perlu adanya gerakan yang harus dilaksanakan secara rutin, gerakan spontan, ataupun keteladanan terkait dengan sikap peduli lingkungan. Berikut ini saya kutipkan program kegiatan rutin untuk pembentukan karakter peduli lingkungan di SMA Negeri 4 Balikpapan dalam buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Berdasarkan Pengalaman di Satuan Pendidikan Rintisan) (2011:47).
KEGIATAN RUTIN PEDULI LINGKUNGAN
Lingkungan sekolah bersih
        Membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya.
        Setiap jam terakhir atau  pukul 14.00 siswa melakukan kebersihan dan memungut sampah di sekitar kelasnya didampingi guru yang mengajar jam terakhir. Siswa membuang sampah kelas ke TPS.
        Setiap hari Jumat minggu kedua  dan keempat pukul 07.15 – 08.00 seluruh warga sekolah  melakukan Jumat Bersih.
        Petugas kebersihan sekolah  memungut sampah yang ada di tempat sampah, di kantor dan di luar jangkauan siswa setelah istirahat kedua dan  langsung dibuang ke TPS SMA Negeri 4 Balikpapan.
        Guru melaksanakan piket secara berkelompok untuk melihat kebersihan lingkungan.
        Mengambil sampah yang berserakan.

Kelas Bersih
        Piket kelas secara kelompok membersihkan kelasnya, strategi  setelah pulang sekolah sesuai daftar piket.
        Siswa secara individu menata bangku dan kursi setiap hari supaya terlihat rapi.  
        Siswa menata bangku dan kursi secara individu setelah pulang sekolah.
        Melakukan pengamatan kebersihan lingkungan oleh penanggung jawab lingkungan  (kriterianya ditetapkan sekolah), dilakukan   setiap minggu dan  diumumkan pada saat upacara  hari Senin. Kelas bersih akan diberi penghargaan  berupa bendera hijau, dan kelas kotor diberikan sanksi bendera merah. Kelas yang lain dianggap agak besih. 
        Tidak mencoret tembok atau bangku/kursi/fasilitas sekolah. Bagi yang mencoret diberi sanksi membersihkan atau mengecat ulang.

Penanaman sikap peduli lingkungan pun tak lepas dari unsur keteladanan. Kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan haruslah memberi contoh berperilaku bersih dan peduli pada lingkungan. Saya pernah bersekolah di SPG Negeri Purwokerto yang kepala sekolahnya sangat peduli lingkungan. Orang akan benar-benar memberi label “Sekolah Hijau” karena berhalaman rumput, lorong sekolah penuh dengan pot tanaman yang terawat, banyak pohon perindang, dan banyak tempat sampah. Tidak hanya itu, Bapak Umar Said, begitu namanya, selalu memberi keteladanan tanpa banyak nasihat. Pernah suatu ketika, teman saya membuang bungkus permen di lantai. Pak Umar yang kebetulan lewat dan melihat langsung membungkukkan badannya, memungut sampah yang dibuang teman saya, lalu membuangnya di kotak sampah. Saat itu saya benar-benar mendapatkan pelajaran penting yang masih saya ingat sampai sekarang, yakni “tidak boleh membuang sampah sembarangan”.
Kebiasaan membuang sampah sembarangan memang cukup sulit untuk diubah. Hal ini, dipicu oleh tidak adanya hukuman atau sanksi terhadap orang yang membuang sampah sembarangan. Selain itu, disebabkan juga karena tidak ada fasilitas tempat sampah yang memadai. Berbeda dengan negara yang sudah maju, Jepang misalnya. Fasilitas kebersihan di Jepang sangat memadai. Di berbagai tempat umum selalu kita temukan tempat-tempat sampah khusus dengan petunjuk yang mudah dibaca. Misalnya, khusus untuk botol, koran/kertas, sampah lain, dan rokok serta abu rokok. Tempat-tempat sampah tersebut tidak pernah tampak penuh apalagi sampai menggunung. Petugas kebersihan selalu mengambil sampah-sampah tepat waktu. Selain itu hukum yang selalu ditegakkan di Jepang juga membuat masyarakat tidak mau melanggarnya. Misalnya huhuman bagi orang yang merokok sambil berjalan dengan denda sebesar 30.000 yen pada tahun 2003 (sekitar Rp 2.100.000,00). Demikian pula hukuman bagi orang yang membuang sampah sembarangan atau mengotori tempat umum lainnya selalu diterapkan sesuai dengan ketentuan.
Jika sekolah berhasil berperan sebagai laboratorium pendidikan karakter peduli lingkungan, diharapkan para siswa juga akan menerapkannya di rumah dan di masyarakat. Hal pertama yang sederhana, sekolah harus mencukupkan fasilitas kebersihan seperti sapu, serok, tempat sampah yang lengkap, dan sarana air. Hal penting yang harus diperhatikan sekolah adalah kamar kecil atau toilet. Pernah ada orang mengatakan bahwa jika ingin melihat karakter bersih dari penghuni sebuah rumah atau sekolah, lihatlah toiletnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hardiknas di Istana Negara (Selasa, 11 Mei 2010) mengutarakan:
 ”…Saudara-saudara, kalau saya berkunjung ke SD, SMP, Saudara sering mendampingi saya, sebelum saya dipresentasikan sesuatu yang jauh, yang maju, yang membanggakan, Saya lihat kamar mandi dan WC-nya bersih tidak, bau tidak, airnya ada tidak. Ada nggak tumbuhan supaya tidak kerontang di situ. Kebersihan secara umum, ketertiban secara umum. Sebab kalau anak kita TK, SD, SMP selama 10 tahun lebih tiap hari berada dalam lingkungan yang bersih, lingkungan yang tertib, lingkungan yang teratur itu ada values creation. Ada character building dari segi itu. Jadi bisa kita lakukan semuanya itu dengan sebaik-baiknya….” (Puskurbuk, 2011:8).
Kata Penutup
Begitulah potret buram di sekolah yang terkait dengan karakter peduli sosial dan peduli lingkungan. Jika diupayakan dengan berbagai aksi, program kegiatan, teguran, dan keteladanan, niscaya potret buram itu akan terhapus. Penanaman sikap peduli sosial dan peduli lingkungan bukan hanya tanggung jawab guru PKn, guru agama, atau guru IPA, melainkan juga tanggung jawab semua guru dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah. Secara umum, semua guru sebagaimana yang sudah dilakukan adalah mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam perencanaan pembelajaran atau memasukkannya ke dalam silabus dan RPP. Namun, tidaklah cukup atau penting jika dalam implementasi masih miskin dengan tindakan nyata. Meminjam kalimat yang ditulis Sudaryanto, “pendidikan karakter itu nyata” bukan teoretis. Jadi, keteladanan, tindakan nyata akan lebih baik daripada seribu nasihat.

Bahan Bacaan
Depdiknas. (2007). Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta.
Murwati Widiani. “Kota Bersih Tanpa Slogan Kebersihan - Sebuah Catatan Perjalanan ke Jepang” dalam Kedaulatan Rakyat, 19 Oktober 2003. Yogyakarta.
Nana Supriatna. “Sekolah sebagai Laboratorium Pendidikan Karakter”. http://karakter-smkn2depoksleman.org, diakses tanggal 5 Desember 2011.
Puskurbuk. (2011) Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Berdasarkan Pengalaman di Satuan Pendidikan Rintisan). Jakarta: Balitbang, Kemendiknas.
Sudaryanto. “Mata Kuliah Berterima Kasih” dalam Alumny, Media Komunikasi Alumni UNY. Desember 2011. Yogyakarta.

 Bimbingan Teknis PKB bagi Pendidik dan Tendik SMP Muh. se-Kab. Sleman                       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar